Masuknya Agama Islam ke Nusantara Indonesia

Pertanyaan yang selalu meresahkan para sejarawan: Kapan Islam masuk ke Nusantara Indonesia? Apakah dibawa oleh wirausahawan atau guru-guru tasawuf. Dari manakah asal wirausahawan atau guru-guru tasawuf tersebut.


Daerah mana di antara Nusantara Indonesia yang demikian luas, sebagai daerah pertama menerima ajaran Islam? Apakah oleh ketiga wirausahawan dari Arab, India dan Cina? Daerah mana: Sumatra, Jawa, Kalimantan, atau Sulawesi.


masuknya-islam-di-indonesia


Kebenaran Teori Masuknya Islam ke Nusantara


Problem masuknya Islam ke Nusantara Indonesia sukar dipastikan. Wilayan mana yang dimasuki paling awal. Nusantara Indonesia sangat luas dan Nusantara berposisi geografis terletak di persimpangan jalan laut niaga antara Arabia, India dan Cina.


Di wilayah yang terdiri dari kepulauan, sekitar 27.000 pulau, dengan daratan sekitar 2.000.000 km2 dan lautan seluas 3.200.000 km2 seluruhnya seluas 5.200.000 km2 maka sukar untuk memastikan wilayah mana yang pertama menerima wiraniagawan atau wirausahawan Muslim dari Arab, India, Maladewa, Yunan, dan Cina. Oleh karena itu, terdapat beberapa teori tentang masuknya agama Islam ke Nusantara:


1. Teori Gujarat


Hanya akibat sistem penulisan, sejarah Islam Indonesia mengikuti hasil penulisan sarjana Belanda, terutama mengikuti teori Prof. Dr. C, Snouck Hurgronje maka diteorikan Islam masuk dari Gujarat. Menurutnya, Islam tidak mungkin masuk ke Nusantara Indonesia langsung dari Arabia tanpa melalui ajaran tasawuf yang berkembang di India.


Dijelaskan pula bahwa daerah India tersebut adalah Gujarat. Daerah pertama yang dimasuki adalah Kesultanan Samodra Pasai. Waktunya abad ke-13 M. Snouck tidak menjelaskan antara masuk dan berkembangnya Islam. Tidak pula dijelaskan di Gujarat menganut mazhab apa dan di Samodra Pasai berkembang mazhab apa? Mungkinkah Islam begitu masuk ke Samodra Pasai langsung mendirikan kekuasaan politik atau kesultanan?


2. Teori Makkah


Prof. Dr. Buya Hamka dalam Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia di Medan (1963) lebih menggunakan fakta yang diangkat dari Berita Cina Dinagi Tang. Adapun waktu masuknya agama Islam ke Nusantara Indonesia terjadi pada abad ke-7 M.


Dalam Berita Cina Dinasti Tang tersebut menuturkan ditemuinya daerah hunian wirausahawan Arab islam di pantai barat Sumatra maka disimpulkan Islam masuk dari daerah asalnya Arab. Dibawa oleh wiraniagawan Arab. Sedangkan Kesultanan Samodra Pasai yang didirikan pada 1275 M atau abad ke-13 M, bukan awal masuknya agama Islam, melainkan perkembangan agama Islam.


Prof. Dr. Abukakar Atjeh mengikuti pandangan Dr. Husein Djajadiningrat, Islam masuk dari Persia dan bermazhab Syi'ah. Pendapatnya didasarkan pada sistem mengeja membaca huruf Al-Qur'an, terutama di Jawa Barat.


Teori ini dinilai lemah karena tidak semua pengguna sistem baca huruf Al-Quran tersebut di Persia penganut Mazhab Syi'ah. Tidakkah pada saat Baghdad sebagai ibu kota Khalifah Abbasiyah, umumnya penganut Ahlush Shunnah wal Jama'ah.


Lebih jelas, di Jawa Barat walaupun sistem  mengeja baca huruf Al-Quran dengan cara seperti itu. Namun, para pengguna sistem baca Persia bukan penganut Mazhab Syi'ah. Tidakkah penganut tasawuf Qadiriyah Naqsabandiyah bukan penganut Mazhab Syi'ah? Pada umumya, di Jawa Barat bermazhab Syafi'i, seperti Abbasiyah di Baghdad Persia bermazhab Syafi'i.


3. Teori Cina


Prof. Dr. Slamet Muljana, 1968, dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, tidak hanya berpendapat Sultan Demak adalah orang peranakan Cina. Namun juga, menyimpulkan bahwa para Wali Sanga adalah orang peranakan Cina. Pendapat itu bertolak dari Kronik Klenteng Sam Po Kong.


Misalnya Sultan Demak Panembahan Fatah dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong bernama Panembahan Jin Bun nama Cina-nya. Arya Damar sebagai pengasuh Panembahan Jim Bun pada waktu di Palembang, bernama Cina, Swan Liong. Sultan Trenggana disebutkan dengan nama Cina, Tung Ka Lo. Sedangkan Wali Sanga antara lain, Sunan Ampel dengan nama Cina, Bong Swi Hoo. Sunan Gunung Jati dengan nama Cina, Toh A Bo.


Sebenarnya menurut budaya Cina dalam penulisan sejarah nama tempat yang bukan negeri Cina, dan nama orang yang bukan bangsa Cina, juga dicinakan penulisannya.


Misalnya putri dari Radja Wikramswardhana adalah Suhita, dan sebagai Ratoe Keradjaan Hindoe Madjapahit. Dituliskan nama Cinanya, Su King Ta. Nama Kerajaan Buddha Sriwijaya dituliskan dengan nama Cina, San-fo-tsi. Namun anehnya, Prof. Dr. Slamet Muljana tidak menyebutkan bahwa Ratu Suhita atau Su King Ta adalah orang peranakan Cina dan Kerajaan Buddha Sriwijaya atau San-fo-tsi adalah Kerajaan Cina.


Besar kemungkinan seluruh nama-nama raja Madjapahit dan nama Keradjaan Hindoe Madjapahit pun seperti halnya kerajaan lainnya dicinakan pula dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong Semarang. Anehnya, nama-nama wali dan nama Soeltan Demak dicinakan dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong, ditafsirkan oleh Prof. Dr. Slamet Muljana sebagai orang Cina.


Mengapa tidak seluruh nama pelaku sejarah dan nama tempat yang dicinakan dalam penulisan Kronik Klenteng Sam Po Kong ditafsirkan menjadi Cina semuanya? Dengan pengertian menjadi tidak ada seorang pun Pribumi. Tidak ada sebuah kerajaan pun di Nusantara Indonesia yang bukan bagian dari Kerajaan Cina.


Jadi, tidak hanya sebatas nama-nama wali dan Dinasti Sultan Demak semata yang ditafsirkan sebagai Cina karena seluruh penulisannya dicinakan dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong, kemudian seharusnya ditafsirkan pula sebagai peranakan Cina atau wilayah Cina.


4. Teori Maritim


Hal itu terjadi, menurut N.A. Baloch sejarawan Pakistan, Masuk dan Perkembangan agama Islam di Nusantara Indonesia, akibat umat Islam memiliki navigator atau mualim dan wirausaha Muslim yang dinamik dalam penguasaan maritim dan pasar. Melalui aktivitas ini, ajaran Islam mulai dikenalkan di sepanjang jalan laut niaga di pantai-pantai tempat persinggahannya pada masa abad ke-1 H atau abad ke-7 M.


Oleh karena itu, langkah awal sejarahnya, ajaran Islam dikenalkan di pantai-pantai Nusantara Indonesia hingga di Cina Utara oleh para wirausahawan Arab. Demikian pendapat N.A. Baloch dalam The Advent of Islam in Indonesia. Dijelaskan pula tentang waktunya, terjadi pada abad ke-1 H atau 7 M. Adapun proses waktu yang dilalui dalam dakwah pengenalan ajaran Islam ini, berlangsung selama lima abad, dari abad ke-1-5 H/7-12 M.


Langkah berikutnya, N.A. Baloch menjelaskan mulai abad ke-6 H/13 M terjadi pengembangan Islam hingga ke pedalaman. Pada periode ini pengembangan agama Islam ke pedalaman dilakukan oleh para wirausahawan pribumi. Selain itu, dimulai dari Aceh pada abad ke-9 M. Kemudian, diikuti di wilayah lainnya di Nusantara, kekuasaan politik Islam atau kesultanan mulai tumbuh.


Perkembangan Kekuasaan Politik Islam


Sehubungan dengan hal ini, J.C. van Leur menjelaskan para Boepati pantai melakukan konversi agama ke agama Islam bermotivasi kekuasaan (political motive). Dengan pengertian akibat mayoritas rakyatnya sudah beragama Islam maka dalam rangka mempertahankan kekuasaannya, para Boepati memeluk agama Islam sebagai agama rakyatnya. W.F. Wertheim menyatakan bahwa proses percepatan pertumbuhan kekuasaan politik Islam di Nusantara Indonesia merupakan dampak dari para Raja atau Boepati yang merasa tidak aman atau terancam oleh kedatangan imperialis Barat.


1. Perkembangan Tasawuf


Sesuai dengan adanya gerakan tasawuf di Timur Tengah, pada masa pengembangan Islam antara abad ke-12 M hingga abad ke-17 M, masuk pula ajaran tasawuf. Dalam hai ini N.A. Baloch menjelaskan tentang perkembangan ajaran tasawuf di Nusantara.


Di antara berbagai aliran tasawuf yang besar pengaruhnya adalah Tarekat Qadiriyah Yang dibangun oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani dan Tarekat Naqsabandiyah yang didirikan oleh Bahauddin Naqsabandi dari Bukhara, 1390 M.


Kedua ajaran tarekat tersebut di Indonesia merupakan prakarsa Sjech Achmad Chatib Sambas dan Sjech Abdoel Karim Banten yang digabungkan menjadi Tarekat Nadiriyah Nagsabandiyah Perlu diperhatikan pula, pengaruhTarekat Qadiriyah Naqsabandiyah-TQN pada abad ke-20 M di bawah pimpinan KH. A. Shohibulwafa Tadjul Arifin dari Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat menjadi sentral pengembangan ajaran Tarekat Qadiryah Naqsabandiyah di Asia Tenggara.


2. Sumber Eksternal


Kembali ke masalah hubungan niaga Timur Tengah, India dan Cina serta Nusantar Indonesia. Walaupun Rasulullah Saw telah wafat, 11 H/632 M, namun hubungan niaga tetap berlangsung antara Khulafaur Rasyidin, 11-41 H/632-661 M dengan negara-negara non Muslim di luar Jazirah Arabia atau dengan Nusantara Indonesia. Seperti yang disejarahkan pada masa khalifah ketiga, Utsman bin Affan, 24-36 H/644—656 M mengirim utusan niaga ke Cina. 


Kesempatan kunjungan utusan niaga ke Cina, dimanfaatkan untuk mengadakan kontak dagang dengan wirausahawan di Nusantara Indonesia. Keterangan sejarahnya terdapat dalam buku Nukhbat ad-Dahr ditulis oleh Syaikh Syamsuddin Abu Ubaidillah Muhammad bin Thalib ad-Dimsyaqi yang terkenal dengan nama Syaikh Ar-Rabwah. Menjelaskan bahwa wirausahawan Muslim memasuki ke kepulauan ini (Indonesia) terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan, 24 — 36 H/644 — 656 M.


Selanjutnya, dijelaskan bahwa Khalifah Islam, menurut sejarah Cina, telah mengirimkan 32 utusan ke Cina. Apabila masa Khulafaur Rasyidin berlangsung selama 29 tahun,11 - 41 H/632 - 661 M tidaklah mungkin hubungan dagang dengan 32 utusan tersebut hanya terjadi pada masa khalifah ketiga semata. Dapat dipastikan hal tersebut berlangsung pada masa Khulafaur Rasyidin dengan pusat pemerintahannya.


  1. Abu Bakar Ash-Shiddig 11-3 H/632-634 M di Madinah
  2. Umar bin Al-Khaththab 13-24 H/634-644 M di Madinah
  3. Utsman bin Affan 24-36 H/644-656 M di Madinah
  4. Ali bin Abi Thalib 36-41 H/656-661 M di Kufah


Tentu, 32 kali pengiriman utusan niaga dari seluruh khalifah itu, singgah ke Indonesia sebab satu-satunya jalan yang mudah untuk sampai di Cina Selatan adalah melalui kepulauan Nusantara Indonesia.


Dari sumber lain, J.C. van Leur dalam Indonesian Trade and Society dengan mendasarkan sumber berita Cina dari Dinasti Tang, 618-907 M menyatakan bahwa pada 674 M di pantai barat Sumatra telah terdapat settlement (hunian bangsa Arab Islam) yang menetap di sana.


Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam juga menuliskan dari sumber yang sama Dinasti Tang, adanya wirausahawan Arab yang menetap di pantai barat Sumatra.


Perlu diperhatikan Berita Cina dari Dinasti Tang, 618-907 M, sekalipun dari Cina, tidak menuliskan bahwa pembawa ajaran Islam yang pertama masuk ke Nusantara Indonesia pada awal mulanya adalah wiraswasta Cina. Melainkan dituliskan pada abad ke-7 M adalah wirausahawan Arab. Bukan Gujarat dan bukan pula India.


Demikian pula berdasarkan keterangan Drs. Ibrahim Buchari, berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan seoang ulama, Syaikh Mukaiddin di Baros, Tapanuli, yang bertuliskan 48 Hijriah atau 670 Masehi maka dapat dipastikan agama Islam masuk ke Nusantara Indonesia terjadi pada abad ke-7 Masehi atau pada abad ke-1 Hijriah.


Dari kedua angka tahun nisan Syaikh Mukaidin 670 M dan Berita Cina Dinasti Tang menyebutkan bahwa di pantai barat Sumatra telah terdapat pemukiman Arab Muslim pada 674 M maka yang dimaksud dengan pantai barat Sumatra dalam Berita Cina Dinasti Tang, kemungkinan besar adalah Baros, Tapanuli karena penyebutan pantai barat dilihat dari negeri Cina. Bukan dari Jakarta, ataupun dari Greenwich Inggris.


Kedua angka tahun nisan 670 M Syaikh Mukaidin dan angka tahun. Berita Cina Dinasti Tang 674 M terjadi pada abad ke-7 M. Angka tahun tersebut memberikan keterangan adanya hubungan niaga dengan Nusantara Indonesia tetap berlangsung dari masa sebelum Rasulullah Saw hingga masa Khalifah Umayah Damaskus, 661-750 M.


Angka-angka tahun dari kedua sumber tersebut, masih agak terbelakang waktunya. Bila dibandingkan dengan keterangan Syaikh Syamsudin Abu Ubaidillah Muhammad bin Thalib Ad-Dimsyaqi bahwa islam telah masuk ke Nusantara Indonesia pada masa Khalifah Utsman bin Affan, 244 - 36 H/644 - 656 M atau pada 30 Hijriyah. Walaupun masih sama pada abad ke-7 Masehi. Namun, waktunya maju sekitar dua puluh tahunan.


Dari kedua data dan fakta tersebut Sulaiman as-Sirafi dan Berita Cina Dinasti Tang, juga terjadi perbedaan kedua angka waktu di Sulawesi pada abad ke-2 Hijriyah, dan di Sumatra abad ke-1 Hijriyah. Dengan kata lain, agama Islam masuk ke Nusantara Indonesia bagian barat lebih dahulu, pada abad ke-1 Hijriyah atau abad ke-7 Masehi.


Menyusul kemudian Nusantara Indonesia bagian tengah pada abad ke-2 Hijriyah atau abad ke-8 Masehi. Hal ini diakibatkan posisi Timur Tengah atau Makkah dan Madinah sebagai sentra agama Islam lebih dekat dengan Nusantara Indonesia belahan barat daripada bagian tengah.


Dalam Berita Cina Dinasti Tang menyebutkan pula adanya peristiwa datangnya utusan dagang dari Ta Che ke Kalingga pada 674 M. Adapun yang dimaksudkan dengan Ta Che menurut Prof. Dr. Buya Hamka adalah Umayah dengan pusat pemerintahannya di Damaskus, 41-133 H/661-750 M. Yang menjadi masalah adalah di mana posisi geografi dari Kalingga tersebut, hanya disebutkan di Pulau Jawa.


Ada kesan bahwa yang dimaksud dengan Jawa adalah Jawa Tengah. Apalagi dengan banyaknya candi Hindu dan Buddha di Jawa Tengah. Bila Kalingga sebagai Keradjaan Hindu, pasti di Jawa Tengah. Tidak mungkin letak geografinya di Jawa Barat. Pendapat itu dikarenakan di Jawa Barat hanya ada Keradjaan Hindoe Tarumanegara kemudian baru menyusul adanya Keradjaan Padjadjaran.


Apabila kita perhatikan pertumbuhan kekuasaan politik Hindu Buddha yang dibangun oleh Sandjaja pada 732 M atau abad ke-8 M maka dapat diperkirakan posisi geografis Kalingga pada Berita Cina 674 M tersebut, bukan di Jawa Tengah, melainkan di Jawa Barat.


Prof. Dr. Buya Hamka tidak memasalahkan di mana posisi geografi Kalingga. la hanya berpendapat Kalingga sebagai kerajaan Islam. Hal ini ditinjau dari hukum potong kaki yang dikenakan kepada putra Ratu Sima yang menyentuh pundi emas yang diletakkan di simpang jalan.


Dikisahkan bahwa Ratu Sima meletakkan sebuah pundi emas di simpang jalan. Kemudian, memberikan bewara atau pengumuman bahwa siapa saja yang mengambil atau memindahkan pundi emas tersebut akan dikenakan hukuman potong. Walaupun hanya dengan kaki menyentuhnya dan walaupun putranya sendiri, hukuman tersebut dilaksanakan.


Dari nilai isi hukuman potong kaki tersebut, Prof. Dr. Buya Hamka berkesimpulan hukum tersebut dari ajaran Islam. Apalagi Ratu Sima tetap memberlakukan eksekusi hukuman potong kaki, walaupun terhadap putranya sendiri. Jadi, menurut Prof. Dr. Buya Hamka, Kalingga adalah bukan keradjaan Hindu melainkan sebagai Keradjaan Islam Kalingga.


Problematika sekitar masuknya agama Islam ke Nusantara Indonesia tidak hanya sebatas masalah waktu (temporal) dan tempat (spatial), serta pelakunya (persona). Namun juga, dalam masalah personal, bagaimana peranan wirausahawan Cina Islam dalam dakwahnya pada 7 M hingga kini belum terpecahkan.


Sumber sebabnya adalah kebijakan penulisan sejarah dari pemerintah kolonial Belanda dengan sejarawan Belandanya atau Barat pada umumnya, masih mempermasalahkan masuknya Islam dari Arab, atau India semata. Tidak menambah dengan teori masuknya Islam dari Cina. Walaupun pedagang atau wiraniagawan yang sangat dominan menguasai pasar adalah Cina.


Jarang kita membaca tentang Laksamana Laut Cheng Ho dalam rangka kunjungan muhibahnya ke Timur Tengah dan Nusantara Indonesia pada 1405 - 1430 M. Pada masa itu, Cina di bawah Dinasti Ming, 1363-1644 M, saat telah berakhirnya masa kekuasaan Dinasti Genghis Khan dan Dinasti Kubilai Khan.


Sebenarnya peristiwa adanya hubungan diplomatik antara Cina dengan Arabia, bukanlah hal yang baru. Telah terjalin pula pada masa Khulafaur Rasyidin, 11-41 H/632-661 M terjadi hubungan diplomatik dengan Dinasti Tang, 618-907 M. 


Hubungan diplomatik tersebut berlanjut pula pada masa Khalifah Al-Walid I, 86-97 H/705-715 M karena daerah pengaruh Umayah I berdekatan dengan Cina. Jenderal Qutaibah sebagai Gubernur Khurasan, membawahi Bukhara, Samarkand, dan wilayah lainnya berbatasan dekat dengan wilayah Cina.


Posisi daerah pengaruh Umayah I yang berdekatan dengan wilayah kekaisaran Cina dalam menjalin hubungan diplomatik membuat Khalifah Hisyam, 106-126 H/724-743 M dari Umayah I, mengirimkan duta, Sulaiman ke Kaisar Hsuan Tsung dari Dinasti Tang, 618 -907 M.


Selanjutnya, masa Abbasiyah, 133-656 H/750-1258 M, terjalin hubungan kerja sama pertahanan antara Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur, 137-159 H/754-775 M, dengan Kaisar Su Tsung, 139 H/756 M. Dikirimkanlah Laskar Abbasiyah dalam kerjasama menumpas pemberontakan Si-ngan-fu dan Ho-nan-fu.


Setelah selesai menumpas pemberontakan tersebut Laskar Abbasiyah tersebut tidak kembali ke Baghdad, melainkan menetap di daratan Cina. Dampaknya, komunitas Muslim di Cina semakin bertambah. 500 tahun kemudian, lahirnya kebijakan Kubilai Khan menaruh perhatian besar terhadap Islam.


Adapun Kaisar Kubilai Khan, 1260-1294 M, menyebutkan nama Dinasti Kubilai Khan adalah Dinasti Yuan, 1279-1368 M. Yang dan perlu kita perhatikan, sangat langkanya dalam penulisan sejarah, Dinasti Genghis Khan mempunyai perhatian besar terhadap Islam. Terbukti dengan adanya pengangkatan Abdurahman sebagai Menteri Keuangan dan Perpajakan pada 1244 M dan Umar Syamsudin dikenal sebagai Sayid Ajall, kelahiran Bhukara, pada 1259 M diangkat sebagai Menteri Keuangan dan merangkap menjadi Gubernur Yunan.


Berita sejarah ini, tidak sampai di masyarakat Islam Indonesia. Masyarakat hanya Mengenal Genghis Khan yang menghancurkan Islam dan kekuasaannya meliputi Yunan. Namun, tidak disebutkan di Yunan terdapat masyarakat Islam yang besar.


Nama Yunan dalam sejarah Indonesia dituliskan sebagai tempat asal “bangsa Indonesio”, Datangnya sebagai imigran dari Tonkin, Annam, Cochin China, ke Nusantara Indonesia terjadi pada masa pra sejarah.


Anehnya, penulisan sejarah selanjutnya setelah masa prehistory atau prasejarah berlalu, masuk pada masa sejarah, tidak lagi disebutkan Yunan sebagai salah satu provinsi kekaisaran Cina mayoritas bangsanya bergama Islam. Tidak dibicarakan kembali Yunan sebagai tanah kelahiran Laksamana Laut Cheng Ho yang Muslim yang pernah singgah ke Nusantara Indonesia. Belum pernah ada teori masuknya Islam ke Nusantara Indonesia dari Yunan.


Peristiwa Ini menjadi pertanyaan penulis sendiri, apakah saat itu, Kubilai Khan, 1260-1294 M sudah masuk Islam sebagaimana saudara-saudaranya telah masuk Islam? Tidakkah Yunan merupakan sebuah provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Islam?


Apakah kebijakan politik Kubilai Khan, 1260-1294 M hanya menaruh perhatian yang basar terhadap Islam tetapi tidak beragama Islam, hanya terpengaruh oleh kebesaran Kesultanan Turki.


Masa kekuasaan Kubilai Khan, 1260-1294 M diawali dua tahun sesudah Baghdad dijatuhkan oleh Mongol, di bawah pimpinan Hulayu, 1258 M. Setelah itu, Baghdad Menjadi vasal dari Kesultanan Turki. Saat itu, terjadi Perang Salib, dan dalam perang itu, menurut Thomas W. Arnold, umat Islam berhasil mengalahkan Salib.


Dalam pertempuran di Tripoli, 1289 M dan Acre, 1291 M, menurut Crane Brinton dalam kedua pertempuran tersebut kalangan Kristen menderita kerugian sejumlah 60.000 orang. Di bawah kondisi Islam dan Kesultanan Turki yang demikian kuat, serta dari pengaruh Dinasti Genghis Khan lainnya sudah masuk Islam maka tidak mengherankan bila Kubilai Khan, 1260-1294 M, menaruh simpati kepada Islam.


Namun karena adanya strategi penulisan sejarah Cina dengan penekanan pada deislamisasi sejarah Mongol dan Cina, artinya ditiadakan peranan Islam dalam penulisan sejarah Mongol dan Cina maka para pembaca penulisan sejarah hanya mengerti bahwa Mongol pada ujungnya lebih terpengaruh oleh Tibet.


Sukarlah untuk menemukan fakta dan data yang jelas tentang motivasi keislaman Kubilai Khan saat berkuasa di Cina kecuali dalam Thomas W. Arnold dengan The Preaching of Islam.


Kembali ke masalah Laksamana Cheng Ho dan kunjungan muhibahnya. Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming, 1363-1644 M, mengangkat Cheng Ho kelahiran Yunan, beragama Islam, sebagai Laksamana Laut. Ditugaskan memimpin kunjungan muhibah pada 1405-1431 M ke 36 negara.


Tujuannya adalah untuk mengangkat nama baik Cina yang telah terkesan rusak oleh adanya invasi Genghis Khan ke Asia, Timur Tengah dan Eropa. Menurut Lee Khoon Choy dalam Indonesia Between Myth and Reality, kunjungan muhibah tersebut disertai 27.000 pasukan Muslim dan 62 kapal.


Menjadi pertanyaan pula, mengapa Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming, 1363-644 M menugaskan Laksamana Laut Cheng Ho yang Muslim pada 1405-1431 M dengan membawa pasukan Muslim Cina dalam jumlah besar? Tentu, jawabannya kebijakan politik Kaisar Yung Lo itu memberitahukan ke dunia luar, rasa simpati Cina yang besar terhadap Islam, sekaligus menunjukkan ke Dunia Muslim bahwa Cina memiliki pasukan Muslim dalam jumlah besar.


Selain itu juga, memberitahukan ke negara-negara beragama bahwa kemerdekaan beragama di Cina terjamin. Tidak terjadi pertentangan antara penganut Kong Fu Tsu, Laotse, Kristen Nestorian dan Islam.


Betapa bijaknya Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming, 1365-1644 M yang memiliki jiwa besar dan kesanggupan menempatkan Muslim Cina untuk duduk dalam pimpinan militernya.


Kebijakan Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming, 1363-1644 M, Terbaca politik pendekatan Islamnya, tidak beda dengan kebijakan Dinasti Tang, 618-907 M dan Kubilai Khan, 1260-1294 M. Dikisahkan bahwa Kaisar Hung-wu, pendiri Dinasti Ming memberikan berbagai hak istimewa kepada umat Islam sehingga umat Islam memperoleh kemakmuran sampai masa akhir Dinasti Ming, 13631644 M.


Dapat ditambahkan di sini, berita yang disampaikan oleh seorarg wiraniagawan atau wiraswasta Muslim, Sayyid Ali Akbar, yang tinggal di Peking pada akhir abad ke-15 M dan awal abad ke-16 M menyebutkan jumlah orang Islam di kota Kenyafu saja terdapat 30.000 keluarga Muslim. Mereka bebas pajak, memperoleh tanah dari kaisar dan kaisar tidak melarang bagi orang-orang Cina yang masuk Islam.


Di Peking dibangun empat masjid. Di seluruh provinsi Cina terdapat sekitar 90 masjid. Keseluruhannya dibangun dengan dana dari Kaisar. Peristiwa sejarah perkembangan Islam di Cina yang demikian besar, tidak mudah kita temui.


Perlu diperhatikan kunjungan muhibah Laksamana Laut Cheng Ho sangat berbeda dengan motivasi kedatangan Keradjaan Katolik Portugis dan Spanyol di Asia Tenggara pada abad ke-16 M yang melancarkan perampokan dan peperangan dengan tujuan reconquista (penaklukkan kembali) Islam dan menegakkan penjajahan serta mission sacre (tugas suci pengembangan agama Kotolik dengan cara pemaksaan).


Kunjungan muhibah Laksamana Laut Cheng Ho dengan pasukan sangat besar, 27.000 pasukan Muslim tersebut digunokon untuk membantu menciptakan keamanan di perairan Indonesia, membasmi perompak Cina.


Kunjungan ke Nusantara, selain ke Kesultanan Samodra Pasai, Palembang, Pulau Bangka, juga ke Kalapa atau Jakarta, Muara Jati Cirebon. Di Cirebon, Cheng Ho membantu pembangunan mercusuar. Di Semarang, membangun Masjid Sam Po Kong. Pada kelanjutannya berubah menjadi kelenteng. Selain itu, Cheng Ho singgah juga ke Tuban, Gresik, dan Surabaya.


Di daerah-daerah itu, kunjungan Laksamana Laut Cheng Ho berpengaruh besar terhadap dakwah Islam di Nusantara Indonesia. Tidak sebatas terhadap pertumbuhan kekuasaan politik Islam di Nusantara. Namun juga, meluasnya jumlah penganut Islam di kalangan Cina saat itu.


Apakah saat kedatangan Laksamana Laut Cheng Ho yang ikut membantu mendirikan masjid dan mercusuar dapat dikatakan Islam masuk dari Cina dan mubalighnya tidak hanya wiraswasta Cina, melainkan pelakunya juga militer Islam Cina? Walaupun pelaku dakwahnya adalah militer, namun Islam masuk ke Nusantara Indonesia tidak disertai invasi atau penyerangan militer Cina.


Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah.

LihatTutupKomentar